Cari

Sabtu, 05 Oktober 2013

Jalan mencari TUHAN

Manusia dalam kondisi alamiahnya
dibedakan dengan makhluk lainnya pertama-
tama bukanlah karena kemampuan akal
budinya, tetapi karena kehendak bebas dan
kemampuannya untuk memperbaiki dan
menyempurnakan diri secara terus menerus.
Dalam konsep fitrahnya, manusia ada
(eksistensi) terlebih dahulu baru
kemudian menyusun esensinya (ke-apa-an)
nya. Contohnya : “Bambang, misalnya, ada
terlebih dahulu, baru kemudian dia
menyusun sendiri esensinya menurut
kehendak bebasnya (free will). Dengan
kehendak bebas yang ada padanya, Bambang
bisa menjadi apa (esensi) saja seperti
menjadi seorang presiden, Menteri,
akademisi, ulama, jenderal, pengusaha,
lawyer, dsbnya.” Ketika manusia itu ada,
maka secara alamiah manusia akan menapaki
esensinya dan memutuskan menjadi apa,
ketika memutuskan menjadi apa, maka
manusia itu berada pada wilayah bebas
sebebas-bebasnya. Dengan bahasa lain,
manusia dilahirkan untuk bebas, bukan
untuk dipenjarakan. Kebebasan bukanlah
rahmat bagi manusia, kebebasan juga
bukanlah sebuah ciri yang membedakan
manusia dengan yang lain, tapi manusia
adalah kebebasan itu sendiri.
Kebebasan manusia ketika memutuskan
menjadi apa, juga berlaku dalam kebebasan
menetukan jalan dan pilihan
religiusitasnya, karena religiusitas
adalah tahapan tertinggi dari kemanusiaan
seseorang, dimenasi religiusitas adalah
dimensi :mengalami dan merasakan
kehadiran” (dalam konteks pemikiran, ini
disebut dengan metafisika) pengalaman
kehadiran ini levelnya diatas wahyu yang
hanya sebuah “teks” semata. Tuhan itu
bukan untuk dipercayai, tetapi untuk
dijumpai dan menyatukan diri dengan Tuhan
dalam rupa dan wujud sebenar-benarnya,
bukan spekulatif. Hanya mempercayai
Tuhan, tetapi tanpa pernah bisa
menjumpainya, maka ini adalah sebagai
sebuah bentuk pengingkaran terhadap
eksistensi kemanusiaannya yang harus
bebas melakukan pencariannya bertemu
dengan Tuhan.
Sebenarnya, manusia dalam tubuh dan
kesadarannya yang selalu dibawa kemana
saja punya kebebasan yang tidak terbatas
untuk menentukan sendiri religiusitasnya
(jalan menemukan dan menjumpai Tuhannya).
Jalan yang harus ditempuh manusia adalah
jalan mencari dan terus mencari sampai
dia menemukan yang sebenarnya dalam wujud
hakikat. Namun dalam perjalanan
sejarahnya banyak manusia yang menganggap
bahwa “doktrin-doktrin teologis syaria’at
dan Fiqhism” sebagai puncak dari segala
pencarian, ketika manusia menganggap ini
sebagai puncak perjalanan
religiusitasnya, maka ini secara tidak
lansung adalah bentuk pengingkaran
terhadap “kebebasan” manusia, kenapa?,
karena potensi kebebasannya menemukan
religiusitas yang sebenarnya yang masih
ada dan belum selesai tidak diarahkan
secara penuh tetapi malah berhenti pada
level syari’at.
Kita juga bisa memahami, kenapa banyak
manusia berhenti dilevel ini. tidak lain
adalah karena ketakutan terhadap doktrin
bangunan teologis yang hadir dengan kata-
kata “Murtad, sesat ” bagi orang-orang
yang terus menempuh jalur-jalur
religiusitasnya. Religiusitas adalah
lompatan iman tertinggi, jadi berada di
level syariat belum bisa dikatakan
“religius”. Konsep kebebasan disini, yang
harus dipegang teguh oleh siapapun
manusia dimuka bumi adalah : “Bahwa,
tidak boleh mengatakan sesat dan
sebagainya, kepada para penempuh jalan
menemukan religiusitas yang sebenarnya”.
Karena ketentuan-ketentuan doktrinal
agama adalah sesuatu yang harus terus
diperiksa dan dipertanyakan oleh manusia
dalam jalan menemukan Tuhan.
Lebih lengkpanya, kita dapat menemukan
inti dalam tiga proses perjalanan manusia
menempuh jalur religiusitas sebenanrya,
yaitu :
Pertama, sikap estetis, yaitu sikap yang
“sangat bebas”, dimana semua kemungkinan
diperiksa, sekaligus menolak semua
kaidah-kaidah yang membatasi kemungkinan
tersebut. dengan cara hidup demikian,
manusia memang dihadapkan pada pilihan-
pilihan. Dan manusia harus memilih, dalam
memilih, manusia mengisi kebebasannya dan
bereksistensi.
Kedua, sikap etis, dimana ia tidak lagi
memilih, tetapi mulai memasuki kaidah-
kaidah moral, menerima suara hati dan
menentukan arah hidup. Jelasnya, dalam
tahap ini manusia mulai mengakui
kelemahannya, misal kelemahan
pengetahuannya tentang hakikat Tuhan yang
sebenarnya, tetapi ia belum sadar bahwa
“ia membutuhkan pertolongan dari atas”,
jika tahap ini sudah dilewati, maka
manusia melompat ke tahap yang lebih
tinggi, yakni sikap religius.
Ketiga, sikap religius, dimana manusia
sudah percaya kepada Allah, namun,
percaya begitu saja amatlah mudah. Yang
diperlukan adalah “manusia percaya kepada
Allah berdasarkan pergumulan, pencarian,
pertanyaan-pertanyaan kita terhadap yang
kita percayai itu”. Lebih mudahnya Ini
dapat kita istilahkan dengan
“religiusitas A” (agama yang diajarkan
orang-orang umum) dan “religiusitas
B” (agama berdasarkan pencarian sampai
menemukan yang sebenarnya). Disini,
religiusitas yang sebenarnya adalah
“religiusitas B”. Model religiusitas A
adalah religiusitas yang sangat mudah dan
banyak sekali, artinya ini kebanyakan
orang (mayoritas) dan manusia yang berada
dilevel ini bukanlah pilihan, karena
tidak pernah menggunakan kebebasannya
untuk memeriksa, mempertanyakan tetapi
hanya menerima saja dengan segala “sikap
percaya diri penuh” bahwa ini sudah
final. Model “religiusitas A” adalah
“penonton” dan “model religiusitas B”
adalah “pemain”, insan-insan unggul yang
akan menentukan jalan dan roda sejarah
kehidupan.
Tarekat adalah satu-satunya jalan
(metode) yang bisa menyambut dan
menyahuti kebebasan manusia dalam ketiga
proses perjalan manusia menempuh jalan
religiusitas di atas. Hanya dalam tarekat
manusia akan mengalami kebebasan secara
penuh. Terkait kebebasan tersebut, maka
semakin cepat manusia bekerja menemukan
esensinya religiusitasnya (perjumpaan dan
penyatuan dengan Tuhan), maka semakin
sempurna esensinya sebagai manusia.
Perjalanan yang harus ditempuh sebagai
sebuah lompatan besar kesempurnaan selaku
manusia yang bebas adalah 1. Perjalanan
menuju Tuhan. 2). Perjalanan bersama
Tuhan ; 3). Menyatukan diri bersama Tuhan
tanpa kemanusiaan lagi dan 4). Perjalanan
kembali bersama manusia dalam segala
persfektif ketuhanannya. Oleh karena itu,
menjalani tareqat adalah menjalani
kesempurnaan manusia, dan merupakan jalan
pembebasan manusia, sehingga potensi
manusia sebaagi rahmatan lil’alamin
tercapai, karena manusia yang dihasilkan
dari tareqat adalah manusia yang tidak
lagi berbuat kekacauan, tidak spekulatif
lagi, tidak lagi diliputi kecemasan
antara dosa dan pahala, antara surga dan
neraka, karena semuanya sudah jelas. Dan
orang-orang yang telah berada dalam
“Arasy Tarekat” bukanlah orang-orang
sembarangan, mereka adalah orang-orang
pilihan, yang sadar betul akan konsep
kebebasan menemukan religiusitas yang
sebenarnya, mereka adalah insan-insan
yang “ diperlukan sejarah dan dibutuhkan
dunia saat ini”.
Apakah setelah bertarekat manusia tidak
bebas lagi?. Maka jawabannya adalah
manusia tetap bebas sebebas-bebasnya,
karena dia telah sampai kepada piramida
tertinggi, dan ketika menuruni tangga
kebawah, dia bisa turun dari arah
manapun, dan setiap saat dia bisa kembali
lagi menaiki tangga tersebut menuju
puncak dari arah manapun yang dia
kehendaki. Esensi menemukan Tuhan sebagai
puncak tertinggi telah didapat, setelah
itu dia tentu diliputi kesenangan yang
tidak bisa digambarkan. Konsep kebebasan
manusia yang sangat sehat justru didapat
dalam kontek tarekat, yaitu sebuah
konteks yang tidak pernah mencampur
adukkan antara urusan-urusan ilahiyah
dengan urusan lainnya, politik misalnya,
yang membuka peluang menjual ayat untuk
kepentingan politik. dalam tarekat,
urusan duniawi manusia adalah urusan
kebebasan masing-masing (menentukan
pilihan politiknya, jalur dan model
ekonomi untuk kesejahterannya, dsbnya)
tanpa doktrin-doktrin mengekang.
Definisi Islam sebagai agama adalah
“penyerahan diri total”. Penyerahan diri
total ini akan kehilangan esensi dan
maknanya jika dibaca dalam konteks
spekulatif (ketidak pastian), penyerahan
diri totalnya tersebut karena iming-iming
surga dan ketakutan terhadap neraka,
keinginan kelimpahan pahala dan
menghindarkan diri jauh-jauh dari dosa.
Kepasrahan total itu akan bermakna dan
menjadi seutuhnya ketika manusia
melompati keimanannya dalam tiga tahap
selanjutnya pasca syariat, yaitu tareqat,
menuju kepada hakikat (inti, esensi,
kebenaran) dan makrifat (mengalami
keadaan kehadiran Tuhan dan mengalami ke
“ada” an Tuhan yang sebenarnya, tanpa
spekulasi, tanpa hijab dan tabir), dalam
kondisi makrifat inilah puncak piramida
pembebasan, karena manusia itu berasal
dari ketiadaan, kemudian menjadi ada,
kemudian dia diberikan kebebasan untuk
menjadi esensi “apa” dan kemudian dia
kembali kepada pemilik “ada” tersebut,
yang telah ‘ada” sebelum kata-kata “ada”
itu “ada”.
Tugas besar yang harus dilakukan sebagai
manusia di semesta adalah bersama-sama
menyelamatkan umat manusia dari “penjara-
penjara teologis” warisan ribuan tahun
lalu, yang telah di dekonstruksi oleh
strktur kekuasaan, untuk kepentingan
kekuasaan, menjauhkan umat manusia dari
pemahaman, pendefinisian Tuhan yang
sebenarnya dan menjauhkan manusia dari
kemanusiaannya yang integral, menjadi
manusia yang saling membenci satu sama
lain hanya karena iman yang dianggap
benar, padahal masih spekulatif. Kini
tugas kita yang harus kita lakukan adalah
“mendekonstruksi” kembali “bangunan
teologis warisan kerajaan-kerajaan
tersebut”, kita harus terus berkata,
“sejarah hari ini tidka butuh lagi
teologi kerajaan seperti ini, kita hanya
butuh teologi kehidupan, agar manusia
dunia menemukan kesejatian eksistensi dan
esensi mereka selaku makhluk bebas dan
menemukan Tuhan dalam kebebasan mereka
mencari dan menemukan Tuhan, bukan
menemukan Tuhan karena keterpaksaan
“warisan” hierakhi-keluarga akibat
ditakut-takuti oleh dosa dan kemurtadan.
Ketika semua orang hampir mati dan beku
didalam sistem dan struktur hierakhis-
anarkhis keagamaan syariat, Sufi terus
berkreasi dan bekerja dalam segala
dimensi massa, ruang dan waktu sebagai
“ksatria-ksatria religius kesalehan
sosial” yang terus menerus membebaskan
manusia dengan kekuatan qalbu dan
rasionya sehingga yang beku menjadi cair
dan yang hampir mati hidup kembali.
Praktek-praktek tarekat merupakan proses
yang “Haq” dan “dibutuhkan sejarah”
sampai kapanpun, sehingga pagar-pagar
batas struktural dan sistem keagamaan
yang selama ini ibarat penjara-penjara
manusia menjadi runtuh berkeping-keping
sehingga manusia terbebaskan, tercerahkan
dari segala dimensi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar