Cari

Sabtu, 05 Oktober 2013

Jika Surga dan Neraka tak pernah ada...?

Bismillahir-Rahmanir-Rahim...
Sahabatku tercinta .., iblis selalu
membisikan permusuhan dengan manusia,
sebagaimana proklamasi permusuhan setan
dengan adam as.
Ketika adam as. turun ke bumi, maka iblis
berkata “Tuhan, bukankah telah saya katakan
bahwa adam akan menentang perintahmu
menjauhi pohon khuldi, serta mematuhiku.
Siapa yang mematuhi sesuatu berarti ia
menjadi hambanya. Dan aku telah menang
atasnya.
Kemudian Allah berkata, “Lalu apa yang kau
mau ?”
Iblis menjawab, “Kuasakan aku atasnya”
Allah berkata, “pergilah! Aku telah
menguasakanmu atasnya. Tuntutlah apa yang
kau inginkan darinya! “
Iblis menjawab, “karena Engkau telah memberi
kuasa kepadaku, maka dengan kekuasanMu, aku
akan menyesatkannya berikut semua
keturunannya.”
Allah berkata, “Di antara mereka ada para
hamba yang ikhlas yang kamu tidak mempunyai
kuasa atas mereka. Kamu hanya berkuasa atas
orang-orang sesat yang mengikutimu.”
Iblis terlaknat itu kemudian berkata,
“Kecuali para hambamu yang ikhlas”. Ia pun
menyetujui dengan pengecualian yang sudah
dikecualikan Allah swt. Iblis kemudian
berkata, “Tuhan, karena Engkau telah
menguasakan aku atas Adam dan memberi apa
yang aku minta, maka tambahkan kekuatan
kepadaku ! “ Mohon iblis.
Allah berkata, “Engkau bisa mengalir dalam
darahnya”
“Aku pasti akan kalah kalau dia
mengingatmu”, kata iblis lagi.
Allah berkata, “Aku telah memberinya sifat
lupa, alpa dan lalai”
“Dia akan mengalahkanku dengan keturunannya
yang banyak”, timpal iblis lagi
“Kalau dia beranak, kamu juga akan mempunyai
anak”, begitu kata Allah.
“Dia akan mengalahkanku dengan kekuatan yang
ada pada dirinya”
“Allah berkata “Kerahkan pasukan berkuda dan
pasukanmu yang berjalan kaki untuk
menghadapi mereka. Lalu berserikatlah dengan
mereka dalam hal harta dan anak-anak, serta
beri mereka janji bahwa tidak ada surga dan
neraka.”
Iblis menjawab, “Engkau telah memenuhi
keinginanku. Oleh karenanya aku akan
mendatangi mereka dari arah depan (yang dari
arah ini aku buat dunia memperdaya mereka),
lalu dari arah belakang (yang dari arah ini
aku menipu mereka agar berbuat dosa), dari
arah kanan (yang dari arah ini aku buat
mereka lalai), serta dari arah kiri (yang
dari arah ini aku buat mereka menangguhkan
taubat).”
Adam kemudian berkata, “Engkau telah memberi
peluang kepada musuhMu untuk menguasaiku dan
mendukungnya dengan kekuatanMu. Lalu
bagaimana aku bisa melawannya ?” Tanya Adam
suatu ketika.
“Kulindungi engkau dengan malaikat-Ku”,
jawab Allah “Tambahkan kekuatan lain
untukku !”, Kata Adam. “Aku tidak akan
menghukummu jika engkau alpa dan lupa”
“Tambahkan karuniamu lagi !” “Aku tidak akan
menuliskan dosa atas niat burukmu”.
“Tambahkan lagi, Tuhan !” “Allah menjawab
permintaan Adam, “Jika kamu tidak jadi
melakukan niat burukmu, Aku tulis niat buruk
yang tidak jadi itu sebagai suatu kebaikan”
“Tambahkan lagi, untukku !” “Aku akan
menuliskan pahala untukmu atas niat baikmu”,
kata Allah
“Tambahkan lagi, Tuhan !” “”Jika kamu
mengerjakan niat baik tersebut, kebaikan itu
akan ditulis sebanyak sepuluh kali lipat”.
“Tambahkan lagi, ya Allah !” “”Aku akan
menambahnya hingga tujuh ratus kali lipat”,
begitu Allah memenuhi permintaan Adam.
“Tambahkan lagi”, kata Adam belum puas.
“Hingga berkali-kali lipat”, Tuhan memenuhi.
“Tambahkan lagi, Tuhan !”. “Rahmat-Ku
mendahului murka-Ku”, begitu kata Tuhan”
“Tuhan, dia mengalahkanku dengan tentara dan
pasukan berkudanya”
“Setiap kali kamu melahirkan seorang anak,
Aku pasti mengutus malaikat untuk
menjaganya”, jawab Allah (QS Al-Ra’d
[13]:11)
“Tambahkan lagi, Tuhan !”
“Pintu tobat terbuka untukmu jika kamu mau
bertobat, yang juga terbuka bagi keturunanmu
yang bertobat setahun sebelum meninggal”.
“Tambahkan lagi, Tuhan !”
“Pintu tobat terbuka bagi keturunanmu yang
bertobat sebulan sebelum meninggal”
“Tambahkan lagi, Tuhan !” “Pintu tobat
terbuka bagi keturunanmu yang bertobat sejam
sebelum meninggal”
“Tambahkan lagi, Tuhan !”
“Pintu tobat terbuka bagi keturunanmu yang
bertobat selama ajal belum sampai
kerongkongan”
“Tambahkan lagi, Tuhan !” “Aku turunkan
untukmu kitab suci-Ku”
“Tambahkan lagi, Tuhan !” “Aku kirim untukmu
para rasul-Ku”
“Tambahkan lagi, Tuhan !”
“Aku perkuat kamu dengan kebenaran yang
selama kamu berpegang kepadanya, iblis tidak
akan mengalahkanmu. “
“Tambahkan lagi, Tuhan !” “Aku ajarkan
kepadamu tentang firmanKu”
“Tambahkan lagi, Tuhan !” “Aku jadikan adzan
sebagai warisan bagi anak keturunanmu”
“Tambahkan lagi, Tuhan !” “Aku jadikan
mesjid yang di tempat itu engkau bisa
mengunjungiku”
“Tambahkan lagi, Tuhan !” “Aku jadikan
dzikir mengingatku sebagai minuman untukmu”
“Lalu apa yang menjadi prajuritku ?”
“Segala yang melingkari pimpinan mereka.
Pimpinan mereka adalah akal”. “Akal adalah
raja. Ia memiliki kekuasaan berupa makrifat.
Pemimpinnya berupa akal. Sumbernya adalah
otak. Tempatnya berada di shadr (dada), dan
kekuasaanya berada di seluruh tubuh. Ia
memiliki seratus pembantu yang mempunyai
tugas masing-masing.”
Iblis kemudian berkata “Engkau telah
menguasakan ku atas adam setelah sebelumnya
Engkau membuatku terhina dan terusir di
hadapannya. Semua yang didapat Adam itu juga
setelah engkau lepaskan pakaian kemuliaan
dariku dan busana malaikatku. Engkau juga
telah memberinya perangkat perang lengkap
dengan pasukannya. Engkau membelanya,
menguatkannya, serta mengobarkan perang
antara diriku dan dirinya. Kelau demikian,
apa yang menjadi perangkat dan prajuritku ?”
Begitu Iblis mulai berargumen.
“Apa yang kau mau ?” Tanya Allah.
“Engkau memberinya kitab suci, lalu apa
kitabku ?” Tuntut Iblis. “Kitabmu adalah
tato”, jawab Allah.
“Lalu, apa rasul untukku ?” “Para dukun”,
jawab Allah. “Apa bahan
pembicaraanku ?”Allah menjawab,
“Kebohongan”. “Apa Al Quranku ?” Allah
menjawab,“Syair”. “Apa perangkat
penyeruku ?” Allah menjawab,“Seruling”. “Apa
masjidku ?” Allah menjawab,“Pasar”. “Apa
rumahku ?”Allah menjawab, “Kamar kecil dan
gereja”. “Apa makananku ?” Allah
menjawab,“Semua makanan yang tidak disebut
namaku”. “Apa minumanku ?” Allah
menjawab,“Segala yang memabukkan”. “Apa
perangkapku ?” Allah menjawab,“Wanita”.
“Engkau berikan prajurit kepada Adam. Lalu,
apa prajuritku ?”, protes iblis. “Segala
sesuatu yang menyebabkan segala perangai
buruk dan hawa nafsu dapat menguasai adam.
Dengan semua itu, mahluk terlaknat itu pun
merasa puas.
Nah sahabatku, lihatlah pada cerita yang di
paparkan di atas. Setan menyerang kita dari
depan, belakang, kiri dan kanan... Hanya
dengan keikhlasan yg tulus kepada Allah,
mereka tak berdaya terhadap kita semua....
Ikhlas, tidaklah sesederhana yang
didefinisikan oleh orang awam. Ikhlas
memiliki tingkatan-tingkatan yang harus kita
daki. Bahkan terdapat suatu keiklasan yang
sangat sulit untuk dicapai. Hanya orang-
orang yang dibantu Allah saja yang dapat
mencapainya. Sebagaimana Abu Ya’qub as-Susy
mengatakan, “Apabila mereka melihat
keikhlasan dalam keikhlasannya, maka
keikhlasan mereka itu memerlukan keikhlasan
lagi.” Cacat keikhlasan dari masing-masing
orang yang ikhlas adalah penglihatannya akan
keikhlasannya itu. Jika Allah menghendaki
untuk memurnikan keikhlasannya, maka Dia
akan menggugurkan keikhlasannya dengan cara
tidak memandang keikhlasannya sendiri, dan
jadilah ia sebagai orang yang diikhlaskan
Allah swt. (Mukhlas), bukannya berikhlas
(Mukhlish)
Teladanilah orang-orang yang ikhlas,
sahabatku, karena sebagian orang arif
berkata, “Tidak seorangpun hamba yang
ikhlash selama empat puluh hari, kecuali
akan mendapatkan sumber hikmah memancar dari
hati pada lisannya.
Suatu hari, beberapa waliyullah melihat
Rabi’ah menyusuri jalan denga api di tangan
kirinya dan air di tangan kanannya.
“Perempuan surga, ke mana engkau akan pergi
dan apa maksud perbuatanmu ini ?”
Rabi’ah menjawab, “Aku akan membakar surga
dan menyiramkan air ke dalam api neraka,
sehingga kedua hijab itu bisa terangkat dari
mereka yang mencari-Nya, agar mereka ikhlas
dalam menjaga hati. Hamba Allah akan belajar
untuk melihat-Nya tanpa harapan akan pahala
atau takut akan siksa. Sebagaimana yang
terjadi sekarang, jika engkau menarik
harapan akan pahala atau takut akan siksa,
niscaya tak akan ada seorang pun yang
beribadah atau taat. [Di kutip dari Syams
Al-Din Ahmad aflaki, Manaqib Al-Arifin
(Kebijakan-kebijakan orang-orang arif), Vol
1 (Teheran : Dunya-i Kitab 1983), h. 396]
Nah sahabatku, lihatlah pada cerita yang di
paparkan di atas...
seorang legenda ahli-Allah, Rabi’ah Al-
Adawiyah (w. 185H / 801 M) atau sering juga
dipanggil Rabi’ah Al-Bashrah telah
mengajarkan kita makna ikhlas yang lebih
dalam. Ikhlas tidak lagi hanya didefinisikan
hanya sebagai : menjadikan Allah swt.
sebagai satu-satunya sesembahan, dan menjadi
tujuan semua amal. Ikhlas tidak lagi hanya
didefinisikan sebagai : mensucikan amal
perbuatan dari campur tangan sesama mahluk.
Rupanya definisi ikhlas dari Rabi’ah adalah
definisi yang diceritakan oleh malaikat
jibril, ketika Nabi Muhammad saw. Bertanya,
apa itu ikhlash : “Aku bertanya kepada
Jibril as. Tentang ikhlas, apakah ikhlas
itu ? Lalu Jibril berkata : ‘Aku bertanya
kepada Tuhan Yang Maha Suci tentang ikhlas,
apakah sebenarnya ?’ Allah swt. menjawab ,
‘Suatu rahasia dari rahasia-Ku yang Aku
tempatkan di hati hamba-hamba-Ku yang
kucintai.” (H.r. Al-Qazwini meriwayatkan
dari Hudzaifah)
Sahabatku, semoga kita dapat menjadi orang
yang ikhlas (mukhlish), karena hanya seorang
mukhlish yang bisa mendefinisikan riya.
Sebagaimana definisi Al-Junayd tentang
ikhlas : “Keikhlasan adalah rahasia antara
Allah dengan si hamba. Bahkan malaikat
pencatat tidak mengetahui sedikitpun
mengenainya untuk dapat dituliskannya, setan
tidak mengetahuinya hingga tidak dapat
merusaknya, nafsu pun tidak menyadarinya
sehingga ia tidak mampu mempengaruhinya.”
Nah, Sahabatku, Rabi’ah telah membukakan
salah satu sisi pintu kerahasiaan ikhlas.
Ikhlas terjadi manakala kita mengeluarkan
(tidak berkompromi dengan) mahluk dalam
bermuamalah dengan Allah. Dengan demikian
kita tidak lagi memperdulikan surga
(mahluk), maupun neraka (mahluk) dalam
beribadah. Yang kita inginkan dari ibadah
kita adalah Pemilik surga dan neraka.
Sebagaimana seseorang yang benar-benar
mencintai kekasihnya, maka ia pun akan
bersabar terhadap ketentuan kekasihnya, dan
ia tidak akan memperdulikan harta kekayaan
dan jabatan yang dimiliki sang kekasihnya.
Yang diinginkannya hanyalah kekasihnya saja.
Itu cukup baginya....
Nah sekarang, jika surga dan neraka tak
pernah ada, masih maukah kita beribadah
kepada-Nya dengan
ikhlas... ? ..? .... ??? ..
Semoga Bermanfaat dan Penuh Kebarokahan Dari
Allah ...

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar